Kolektif Seni Kalijurang Hadirkan “Reksa Tirta” dalam Festival Anak Desa #6: Nandur Banyu
BAROMETERMAS.COM. Purbalingga. - Kolektif Seni Kalijurang turut berpartisipasi dalam Festival Anak Desa (FAD) #6 Tahun 2026 melalui pajang karya dan instalasi seni bertajuk Reksa Tirta. Mengusung tema “Nandur Banyu”, kegiatan ini berlangsung pada 30 Oktober–1 November 2026 di Dusun Brobahan, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.
Festival Anak Desa merupakan agenda kebudayaan dan edukasi berbasis komunitas yang diselenggarakan secara berpindah dari desa ke desa di Kabupaten Purbalingga. Diprakarsai oleh pemuda dan warga secara kolektif, festival ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi untuk melestarikan kearifan lokal, merekatkan hubungan sosial masyarakat, serta menghadirkan ruang tumbuh yang sehat dan kreatif bagi anak-anak desa.
Beragam kegiatan dihadirkan dalam festival ini, mulai dari permainan tradisional (dolanan bocah), pagelaran seni lokal, pameran karya, lokakarya kebudayaan, hingga aksi kepedulian lingkungan. FAD juga mengampanyekan pengurangan ketergantungan anak terhadap gawai melalui aktivitas kreatif dan interaksi sosial secara langsung. Selain itu, Pasar Desa yang menyajikan kuliner tradisional dengan sistem transaksi unik menggunakan lempeng kayu menjadi bagian dari upaya merawat tradisi gotong royong sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Dalam ruang perjumpaan tersebut, Kolektif Seni Kalijurang menghadirkan Reksa Tirta sebagai medium untuk memperkenalkan kembali pengetahuan lokal sekaligus mengampanyekan pentingnya konservasi sumber mata air.
Melalui instalasi bertajuk Reksa Tirta: Nama-Nama yang Mengalir Sunyi, kolektif ini mengangkat kembali 21 nama sumber mata air di Desa Kalijurang yang menjadi bagian dari lanskap ekologis sekaligus ingatan kolektif masyarakat. Nama-nama tersebut tidak sekadar diposisikan sebagai penanda geografis, melainkan sebagai jejak relasi manusia dengan air dan ruang hidupnya.
“Karya instalasi ini menggunakan material batok, kayu, limbah perca, dan bambu. Batok-batok yang menggantung menjadi semacam arsip terbuka yang menyimpan nama, memanggil ingatan, sekaligus menandai keberadaan sumber-sumber air yang perlahan berjarak dari kesadaran bersama. Batok-batok dalam instalasi ini tidak menampung air, melainkan menampung kemungkinan, bahwa sebelum sebuah sumber kehilangan airnya, barangkali manusia lebih dahulu kehilangan ingatan tentangnya.” Ujar Ramon, salah satu anggota kolektif.
Melalui pendekatan artistik tersebut, Reksa Tirta mengajak pengunjung melihat konservasi bukan semata-mata sebagai tindakan ekologis, tetapi juga sebagai upaya merawat pengetahuan, ingatan, dan warisan kehidupan desa.
Kepala Desa Kalijurang, Edi Riyanto, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif para pemuda dalam mengembangkan kegiatan seni dan kebudayaan yang membawa nilai positif bagi masyarakat.
“Kegiatan para pemuda harus selalu didukung selagi itu bernilai positif. Kami berharap karya Reksa Tirta dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenali dan menjaga sumber mata air sebagai warisan kehidupan desa,” ungkap Edi Riyanto.
Partisipasi Kolektif Seni Kalijurang dalam Festival Anak Desa #6 menjadi ikhtiar untuk mempertemukan seni, kebudayaan, dan kesadaran ekologis. Sejalan dengan tema Nandur Banyu, karya Reksa Tirta mengajak masyarakat menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya sumber mata air sebagai warisan ekologis yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Melalui karya ini, upaya konservasi diharapkan tidak berhenti pada pengenalan nama-nama mata air, tetapi tumbuh menjadi kesadaran bersama untuk merawat sumber kehidupan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.
(Alfan F)



