SISWA DAN AI: MEMBANTU BERPIKIR ATAU MENGGANTIKAN BERPIKIR? -->

Header Menu

Advertisement

SISWA DAN AI: MEMBANTU BERPIKIR ATAU MENGGANTIKAN BERPIKIR?

Redaksi
Rabu, Juni 10, 2026

 SISWA DAN AI: MEMBANTU BERPIKIR ATAU MENGGANTIKAN BERPIKIR?

                 

                    (Bila Zulfani Lestarie) 
Program S2 Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia


BAROMETERMAS.MAS.COM. Bandung, - Perkembangan teknologi saat ini sangatlah pesat, terutama teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Keberadaan AI membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam dunia pendidikan. AI seringkali digunakan untuk mencari/menemukan jawaban dari perbagai pertanyaan. Cukup banyak siswa yang menggunakan AI seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya untuk mendapatkan jawaban dalam waktu singkat. Tidak terkecuali dalam pembelajaran matematika. Soal yang sebelumnya mereka kerjakan dalam waktu lama untuk diselesaikan, kini dapat mereka jawab secara instan dan lengkap langkah-langkah pengerjaannya melalui AI.


Keberadaan AI memberikan banyak manfaat, siswa dapat belajar kapan saja tanpa menunggu penjelasan guru. Mereka juga dapat memperoleh bantuan secara personal sesuai dengan kebutuhan belajarnya, bahkan AI dapat membantu siswa membuat program belajar. Namun, dibalik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan “apakah AI membantu siswa menjadi lebih cerdas dalam berpikir matematis, atau justru membuat mereka semakin bergantung pada teknologi dan tidak mau mengembangkan/meningkatkan kemampuan berpikirnya sendiri?”



Pertanyaan ini menjadi semakin relevan mengingat matematika bukan hanya tentang menemukan jawaban yang benar, tetapi juga melatih kemampuan berpikir logis, analitis, dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran matematika perlu ditinjau dari sudut pandang psikologi perkembangan kognitif agar dapat dipahami secara mendalam.



AI sebagai Pendamping Belajar: Sudut Pandang Vygotsky

Menurut Vygotsky, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui interaksi sosial dan bantuan dari pihak yang lebih kompeten. Vigotsky memperkenalkan konsep Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu jarak antara kemampuan yang dapat dicapai siswa secara mandiri dengan kemampuan yang dapat dicapai melalui bantuan.



Dalam konteks pembelajaran modern, AI dapat berperan sebagai bentuk scaffolding atau dukungan bertahap bertahap dalam belajar. Ketika siswa mengalami kesulitan memahami konsep dari suatu materi, AI dapat memberikan petunjuk, contoh soal, maupun penjelasan tambahan yang membantu mereka memahami materi. Dengan demikian, AI berpotensi menjadi tutor digital yang mendukung perkembangan kognitif siswa.



Dari sudut pandang Vygotsky, kondisi ini menunjukkan bahwa AI dapat memperluas kesempatan belajar dan mendukung perkembangan kemampuan berpikir siswa. Namun, manfaat tersebut hanya akan diperoleh apabila AI digunakan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses belajar itu sendiri.



Risiko Ketergantungan AI: Sudut Pandang Piaget

Jean Piaget memandang bahwa pengetahuan harus dibangun secara aktif oleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. Menurut Piaget, belajar terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi. Ketika siswa menghadapi masalah baru, mereka akan menyesuaikan struktur pengetahuan yang dimiliki sehingga terbentuk pemahaman yang lebih matang. Proses inilah yang menjadi dasar perkembangan kognitif.



Dalam pembelajaran matematika, proses mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari pembentukan pemahaman. Akan tetapi, ketika siswa langsung menggunakan AI dalam menyelesaikan seluruh soal tanpa berusaha terlebih dahulu, maka kesempatan mengalami proses tersebut menjadi berkurang.



Akibatnya, siswa memang mendapatkan jawaban yang benar, tetapi tidak dapat memahami alasan dari jawaban tersebut. Mereka terlihat sudah berhasil menyelesaikan tugas, tetapi kemampuan berpikir matematis yang seharusnya berkembang malah tidak mengalaminya bahkan bisa menurun. Berdasarkan sudut pandang Piaget, menggunakan AI berlebih dapat menghambat proses konstruksi pengetahuan yang menjadi inti dari pembelajaran.



AI dan Beban Kognitif: Sudut Pandang George Miller

George A. Miller menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia memiliki keterbatasan dalam mengolah informasi pada satu waktu. Tidak jarang matematika menuntut siswa memproses banyak informasi secara bersamaan, seperti memahami konsep, mengingat rumus, dan melakukan perhitungan. Dalam kondisi ini, AI dapat membantu mengurangi beban kognitif dengan cara menyederhanakan informasi, memberikan rangkuman konsep, atau menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara sistematis.



Sebagai contoh, ketika mempelajari suatu materi, siswa dapat meminta AI menjelaskan konsep secara bertahap dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks. Bantuan tersebut memungkinkan siswa memfokuskan perhatian pada pemahaman konsep tanpa harus merasa kewalahan oleh banyaknya informasi yang harus diproses.



Namun, terdapat risiko apabila seluruh aktivitas berpikir diserahkan kepada AI. Jika siswa sering mengandalkan AI untuk menganalisis/menyelesaikan masalah, perkembangan kemampuan memori kerja dan kemampuan pemecahan masalahnya dapat kurang optimal. Dengan kata lain, AI dapat menjadi alat yang membantu berpikir, tetapi tidak boleh mengambil alih fungsi berpikir.



Peran Guru di Era AI

Keberadaan AI tidak dapat dihindari, sehingga fokus utama pendidikan bukanlah melarang penggunaannya, melainkan mengajarkan cara memanfaatkannya secara bijak. Dalam konteks pembelajaran matematika, guru memiliki peran penting untuk memastikan bahwa AI menjadi sarana belajar, bukan sarana menyontek.



Guru dapat mengubah pola pembelajaran dengan lebih menekankan proses berpikir daripada hanya jawaban akhir. Misalnya, siswa tidak hanya diminta menyelesaikan soal, tetapi juga menjelaskan alasan pemilihan strategi, membandingkan beberapa metode penyelesaian, atau mengkritisi jawaban yang diberikan oleh AI. Selain itu, guru dapat mendorong siswa menggunakan AI sebagai teman diskusi. Dengan cara ini, siswa tetap aktif membangun pemahaman, sementara AI berfungsi sebagai sumber bantuan yang memperkaya pengalaman belajar.



Penutup

Kehadiran AI dalam pembelajaran matematika membawa peluang sekaligus tantangan. Dari Sudut Pandang Vygotsky, AI dapat berfungsi sebagai scaffolding yang membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Dari sudut pandang Piaget, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi menghambat proses konstruksi pengetahuan. Sementara itu, teori George Miller menunjukkan bahwa AI dapat membantu mengurangi beban kognitif, tetapi tidak boleh menggantikan latihan berpikir yang diperlukan untuk perkembangan otak.



Oleh karena itu, pertanyaan apakah AI membuat siswa lebih pintar atau lebih malas berpikir sebenarnya tidak memiliki jawaban yang sederhana. Dampaknya sangat bergantung pada cara teknologi tersebut digunakan. Jika AI dimanfaatkan untuk mendukung eksplorasi, refleksi, dan pemahaman konsep, maka ia dapat menjadi alat yang memperkuat perkembangan kognitif siswa. Namun, jika digunakan hanya untuk memperoleh jawaban secara instan tanpa proses berpikir, AI berisiko melemahkan kemampuan yang justru ingin dikembangkan melalui pendidikan.



Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan bukanlah bagaimana menjauhkan siswa dari AI, melainkan bagaimana membimbing mereka agar tetap menjadi pembelajar yang kritis, reflektif, dan mandiri di tengah kemudahan teknologi yang terus berkembang.


(Syahidin)