Siswa Bisa Hitung, Tapi Tidak Mengerti: Krisis Belajar Bermakna di Kelas Matematika SMA
![]() |
| (Zahratul Amri) Mahasiswa S2 Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia |
BAROMETERMAS.COM. Bandung, - Kalau kita ingat kembali masa SMA. Saat guru menuliskan rumus di papan tulis, kamu mencatatnya, menghafalnya, lalu menggunakannya untuk mengerjakan soal. Nilaimu bagus. Tapi kalau ada yang tanya, "rumus itu sebenarnya menghitung apa sih?" — kamu diam. Banyak dari kita pernah ada di posisi itu. Dan yang mengkhawatirkan, banyak siswa SMA hari ini masih ada di posisi yang sama.
Tapi masalahnya ternyata tidak dimulai di SMA. Ia sudah berjalan jauh sebelum itu.
Di banyak sekolah, ada pemandangan yang tidak asing bagi para guru matematika SMA dimana siswa kelas sepuluh yang masih kesulitan membagi pecahan, bingung membaca grafik sederhana, atau tidak hafal konsep dasar perbandingan yang seharusnya sudah tuntas sejak SD atau SMP. Bukan karena mereka tidak cerdas. Tapi karena sejak awal, mereka belajar matematika dengan cara yang salah, menghafal prosedur tanpa pernah benar-benar memahami apa yang sedang dilakukan. Ketika mereka naik ke jenjang berikutnya, lubang-lubang pemahaman itu ikut terbawa. Dan di SMA, lubang itu semakin besar karena materinya semakin abstrak, sementara fondasinya tidak pernah kokoh.
Inilah yang membuat situasinya menjadi lebih rumit dari sekadar "siswa kurang rajin belajar."
Secara perkembangan, usia SMA memang adalah waktunya seseorang mulai mampu berpikir secara abstrak — memahami konsep yang tidak bisa dilihat atau dipegang. Kemampuan ini seharusnya sudah mulai tumbuh. Tapi kemampuan berpikir abstrak tidak tumbuh di ruang hampa. Ia butuh tanah yang subur — dan tanah itu adalah pengalaman belajar bermakna yang dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Ketika pengalaman itu tidak ada, maka siswa SMA pun tiba di kelas dengan kepala yang penuh rumus tapi miskin konsep. Mereka kesulitan berpikir abstrak bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak pernah dilatih untuk melakukannya dengan cara yang benar.
Lebih dari enam puluh tahun lalu, seorang psikolog pendidikan bernama David Paul Ausubel sudah menjelaskan mengapa ini bisa terjadi. Ausubel percaya bahwa belajar yang sesungguhnya hanya terjadi ketika pengetahuan baru berhasil terhubung dengan sesuatu yang sudah ada di dalam kepala siswa. Ia menyebutnya meaningful learning — belajar bermakna. Setiap konsep baru yang masuk ke pikiran, kata Ausubel, perlu "dijangkarkan" pada pengetahuan lama yang relevan. Tanpa jangkar itu, informasi baru hanya mengambang sebentar lalu menghilang. Inilah yang ia sebut rote learning — hafalan tanpa makna. Seperti menaruh buku di rak tanpa tahu isinya apa, dan kelak kamu tidak akan pernah tahu harus mencarinya di mana.
Artinya, ketika seorang siswa SMA tidak bisa memahami konsep turunan, bukan semata karena turunan itu sulit. Bisa jadi karena konsep fungsi yang jadi prasyaratnya tidak pernah benar-benar dipahami. Dan konsep fungsi itu tidak dipahami karena sebelumnya konsep perubahan nilai tidak tertanam dengan baik. Satu lubang kecil di SD bisa menjadi jurang di SMA.
Kurikulum Merdeka yang kini berjalan membawa semangat yang sebenarnya sejalan dengan apa yang Ausubel yakini — pembelajaran kontekstual, berpikir kritis, siswa sebagai pusat. Semangatnya benar. Tapi semangat di atas kertas tidak otomatis berjalan di ruang kelas. Guru masih dikejar target materi. Penilaian masih lebih banyak mengukur apakah siswa bisa mengerjakan langkah-langkahnya, bukan apakah mereka memahami apa yang sedang dilakukan. Dan siswa yang datang ke SMA dengan fondasi yang compang camping tidak selalu mendapat ruang untuk menambal pemahaman yang terlewat itu — mereka hanya didorong terus ke depan, meninggalkan lubang-lubang yang semakin lebar.
Ausubel tidak meminta kita membuang semua cara mengajar yang ada. Yang ia minta sederhana: sebelum mengajarkan yang baru, pastikan yang lama sudah benar-benar dipahami. Sebelum memulai bab baru, ajak siswa mengingat apa yang sudah mereka tahu. Setelah pelajaran, jangan hanya tanya "mengerti?" — tanya "bisa kamu jelaskan ini dengan kata-katamu sendiri?" Perubahan itu tidak selalu butuh waktu ekstra yang banyak. Kadang hanya butuh satu pertanyaan yang tepat untuk membuat segalanya berbeda.
Ada perbedaan besar antara siswa yang bisa mengerjakan soal dan siswa yang memahami matematika. Yang pertama mungkin lulus ujian. Yang kedua akan mampu menggunakan matematika untuk berpikir, bahkan setelah buku pelajaran lama ditutup dan disimpan di gudang. Kita sudah lama fokus mencetak yang pertama. Mungkin sudah waktunya kita mulai serius membangun yang kedua.
(Syahidin)

